SINOPSIS BUKU ” ALLAH MENGAJARIKU “
Kisah naratif dari sebuah perjalanan hidup seorang perempuan Indonesia. Perempuan yang telah biasa dengan hiruk pikuk perilaku megapolitan Jakarta. Bukan hanya telah biasa, dia juga terlibat langsung dalam setiap gegap gempita yang terjadi.
Semua kegiatan dia lakukan dengan melibatkan diri pada arus kenikmatan sementara gemerlap kota. Dia lakukan dengan senang hati, atas pilihan sendiri walaupun tanpa kesadaran yang lengkap tentang makna hakiki kehidupan.
Peristiwa demi peristiwa di ranah yang selama ini dianggap sebagai keindahan, sebagai surga, ternyata hanya sesuatu yang semu. Keindahan itu hanya terlihat di permukaan. Ketika dia menyeruak ke kedalaman, tidak ada terang di sana. Hanya ada kepekatan yang sangat gelap sehingga dia tidak lagi tahu arah yang akan dituju.
Satu demi satu tempat kegelapan mulai dia singgahi. Pergaulan di duniawi yang gemerlapan pada awalnya merupakan sesuatu yang menyenangkan, hingga dia mendapat julukan Madame Funky, perlahan-lahan mulai terasa menjemukan. Dia berlari dari satu persinggahan ke persinggahan yang lain.
Tidak ada lagi persinggahan yang dapat memuaskan dahaga hati dan jiwanya. Setiap persinggahan laksana fatamorgana. Sesuatu yang dia kira oase yang dapat melegakan rasa haus, ternyata malah membuatnya semakin haus. Kehausan akan keindahan dan kenikmatan yang lebih hakiki.
Semakin dia bergerak di kedalaman yang gelap pekat itu, malah membuat dia semakin tersasar ke arah yang tidak menyenangkan bagi bathin perempuan petualang ini. Maka petualangan jiwa perempuan merdeka ini, membenturkannya pada kenyataan yang semakin lama semakin pahit. Dahaga semakin menjadi.
Maka sesuatu yang maha kuat menuntunnya pada satu persinggahan yang mulai melegakan. Seorang perjaka ting-ting diberi amanah oleh Sang Perkasa untuk melindungi wanita mulia yang sedang berlumur dosa. Namun ternyata Sang Sutradara memberi perempuan ini amanah yang luar biasa dan dijadikanNya sebagai ujian.
Kemampuan luar biasa itu membuatnya mampu berhubungan dengan pihak lain selain manusia, yang kemudian kembali menyeretnya menjauhi ikatan yang sakinah, mawaddah, warahmah. Sekali lagi dia gagal dalam ujian dari Sang Maha Tinggi.
Hingga Sang Pemberi Petunjuk, menyeret langkah perempuan digdaya ini kepada seorang teman yang serta merta menyatakan bahwa tidak ada gunanya membantu orang lain menjadi lebih bersih sementara diri sendiri masih kotor.. Sebuah pukulan telak yang menghancurkan rahang-rahang kesombongan sang perempuan perkasa.
Perlahan-lahan tetapi sangat pasti Sang Maha Penuntun, memberinya kesempatan untuk bertemu orang, banyak orang, dan semakin banyak lagi yang menunjukkan siapa perempuan itu. Diia merasa telah bersih, merasa telah tercuci, tetapi ternyata masih banyak debu, lumpur, daki dan karat yang menempel.
Betapa tidak. Sekian lama berkubang dalam gemerlap keindahan yang sangat fana tanpa merasa perlu mencari tuntunan yang pasti, membuatnya sulit membedakan baik dan buruk. Tidak dimilikinya pemahaman yang pasti tentang kotor dan bersih.
Sehingga, tanpa fondasi yang kuat, dia masih mudah terombang-ambingkan pilihan. Sebagaimana nasihat untuk bergaul dengan orang-orang saleh, maka sang hamba yang hina dina ini mulai membersihkan debu, lumpur, daki dan karat itu dengan sangat perlahan.
Sebuah proses yang sangat panjang, berkelanjutan, dan sepertinya menyakitkan tidak menghantarnya pada kesakitan atas ketidak berdayaaan yang permanen. Dia malah semakin lama semakin kuat.
Dan perlahan tapi semakin pasti, berlarilah si sombong, si pembohong, dan semua hal yang buruk yang selama ini berdomisili di hati si perempuan lemah tak berdaya. Persis seperti kata seseorang, “ketika aku angkat tangan, maka Allah akan turun tangan”.
Itu yang kemudian terjadi sehingga dia bertemu dengan mursyid hakiki dan memulai perjalanan ma’rifatnya. Perjalanan yang tidak akan pernah selesai. Perjalanan yang tidak akan pernah menemui titik akhir. Perjalanan yang hanya diputus oleh kembalinya nyawa-nyawa mulia kepada Sang Pemilik.
Perempuan ini sadar, sesadar-sadarnya, bahwa dia telah melalui dua wilayah yang sangat berbeda. Dari gelap ke terang. Dari sesat kepada jalan yang memiliki petunjuk-petunjuk yang jelas, bagi orang-orang yang berfikir. Dia sangat ingin memberikan seluruh hidupnya, seluruh perjalanannya yang tidak akan pernah selesai ini, kepada semua orang, demi semua orang.
Dia tahu tidak mudah untuk meyakinkan siapapun yang merasa telah melalui jalan yang tepat, namun semakin tersesat. Tetapi inilah hidupnya. Separuh jalannya adalah hal yang sangat tidak pantas untuk dicontoh. Separuh lagi adalah yang, andai ada tombol restart dalam hidup, dia ingin dapat dia raih sebelum melalui jalan gelap itu.
Tetapi apapun yang dia dapatkan adalah hidup yang pantas disyukuri. Apapun yang tertulis di sini adalah sesuatu yang patut untuk dijalankan, bukan hanya diniatkan untuk dilakukan. Dan apapun yang ada di halaman-halaman berikut adalah sesuatu yang jelas bermanfaat, bagi banyak orang, paling tidak bagi dirinya.
Maka, semua kebaikan dan kesempurnaan adalah milik Allah. Manusia hanyalah tempat untuk semua kelemahan.
Sinopsis By : Ardian Syam…
==========================================
Special Thank for Mas Ardian yg sudah membuatkan sinopsis ini ,
Semoga kebaikan Mas Ardian terbalas oleh Allah amin…
Dan selalu dlm kebaikan`Nya… amin..
Wasalam
Ambar Sari Setiadi
Judul Buku:
” ALLAH MENGAJARIKU ”
Penulis:
Ambar Sari Setiadi
Editor:
Asfa Davy Bya
Desain Sampul:
Ambar Apranamurti
Jabal Ghafur
Ambar Sari Setiadi
Fotografer:
Anto Hardianto
Digital Image By : Triyudha Ratulangie Ichwan
Studio 35 [in frame]
Tata Letak :
Sugianto Sank
Penerbit :
GYBRALTAR
Popularity: 7% [?]
